Backpacker : Our Short First Trip – Pahawang Island

Backpacker pahawang

Backpacker : Our Short First Trip – Pahawang Island

BackPacker “Everything that I through with you is a journey…” Septi Saraswati

Backpacker : Pulau Pahawang, salah satu pulau di Provinsi Lampung merupakan pulau yang sangat indah dan masih bersih. Saya telah merencanakan untuk ikut open trip ke Pahawang pada tanggal 5-7 February 2016 bersama teman-teman kantor. Rencana itu sudah ada sebelum saya mengenal dia, Chandra Pramudya. H-1 minggu, Chandra mengajukan diri untuk ikut trip. Senang tidak senang sih :p karena hanya teman-teman wanita dari kantor yang ikut trip ini. Oke, perjalanan dimulai Jumat malam, dia jemput saya di kantor, namun karena waktu itu sudah adzan magrib, saya ajak dia untuk solat di kantor bareng dengan teman lainnya. Ini adalah pertama kali dia menjadi imam dalam solat saya.

Saat itu kita menuju titip point pertemuan pertama, yaitu di Plaza Slipi Jaya. Perjalanan ke Slipi dari kantor sangat macet. Saat itu kita menggunakan taksi. Saya bersama dua orang teman lainnya duduk dibelakang dan dia di depan. Dalam taksi, seperti biasa dia melemparkan humoran-humoran yang terkadang garing :p (sorry I tell the truth but I still love you). Dia gampang akrab, itu lah salah satu karakter dia yang saya suka. Setelah sampai di Slipi Jaya, kita menggunakan bus untuk menuju Merak. Bus Jakarta Merak ? ya bus yang selalu penuh. Hanya ada 2 tempat duduk kosong. Saya duduk bertiga dengan teman yang lain dan dia rela berdiri. Saat itu yang saya takutkan adalah dia tidak terbiasa dengan perjalanan seperti ini. Sebelum pergi, saya sudah menanyakan hal ini, apakah kamu yakin akan ikut? open trip ini seperti backpacker, kita menggunakan bus dan kapal laut dengan fasilitas seadanya. Dia menjawab, hal itu sudah biasa. Perjalanan memakan waktu beberapa jam, dan dia tetap berdiri sampai akhirnya dia mendapatkan tempat duduk. Sampailah kita di Merak, hampir tengah malam saat itu. Di sana kita menunggu kembali beberapa saat untuk menaiki kapal. Dia selalu memegang erat tangan, ya dia tipe orang yang selalu menjaga saya.  Saat itu saya membawa banyak peralatan dan itulah pertama kali dia membawa barang-barang saya dalam perjalanannya, dan mungkin selanjutnya akan terus seperti itu :).

Akhirnya kita menaiki kapal, kita membayar tiket tambahan agar bisa masuk ke dalam kapal. Kita memilih tempat yang kosong agar bisa berbaring. Memisahkan diri dari teman yang lain, bukan untuk berduaan tapi karena kita berdua cape. Saya liat dia sangat cape, karena dia tertidur pulas 🙂 . Sampai kita di pelabuhan Bakauheni, dia tetap memegang erat tangan saya. Selama dalam perjalanan, dia selalu menyempatkan diri untuk solat. Alhamdulillah, niat baik bersama orang baik. Untuk open trip ini saya tidak akan banyak bercerita, karena ada cerita yang lebih menarik di trip kita selanjutnya. Saya akan bercerita secara umum. Open trip Pahawang ini membuat saya tahu kalau dia tidak bisa berenang, tapi dia berani masuk ke dalam air bahkan foto dalam air tanpa pelampung. Yes, Ewako !!!! Selain itu open trip Pahawang ini, kita tidur di rumah warga dengan alas seadanya dan makan seadanya, dia tidak mengeluh, dia tidur di luar kamar, tepatnya depan pintu kamar saya dan teman-teman. Dia tidak pernah jauh dari saya, sejak pertama kita kenal sampai saat ini. Thanks my big baby boy !!!

Singkat cerita akhirnya kita pulang, menuju Jakarta pada sore hari dan sampai Jakarta hampir tengah malam. Dari Merak kita pulang menuju Jakarta berdua, menggunakan bus. Kita sempat tertipu karena menaiki bus yang salah. Kita harus turun di tengah jalan dan menaiki bus lain. Kita hanya bisa duduk di depan, samping sopir. Ini adalah perjalanan bus terburuk saya, karena kita duduk di bawah dalam keadaan cape, bus gelap dan banyak kecoa selain itu perjalanan Merak-Jakarta sangat jauh. Akhirnya kita tiba di Jakarta, keesokan harinya adalah hari libur jadi kita bisa beristirahat namun ada suatu hal yang baru saya tau, dia bermasalah dengan ginjalnya, ya dia punya batu ginjal. Pagi hari saya panik karena dia demam tinggi dan mengeluh sakit. Dia cerita kalau dia punya batu ginjal. Mungkin dia kecapean dan jarang minum saat di Pahawang. Saya hanya bisa kompres dia dengan air hangat, seperti yang selalu keluarga saya lakukan saat di rumah. Dia telpon orang tuanya, dan tiba-tiba dia bilang saya mau pulang ke Makassar. Khawatir dan marah, marah karena saya sangat khawatir, kenapa harus pulang ke Makassar? saya khawatir bagaimana nanti dia di pesawat. Namun karena saya melihat kondisi dia dan penjelasan dia untuk berobat disana akhirnya saya perbolehkan dia pulang. Akhir cerita dia sembuh setelah beberapa hari.

Hikmahnya adalah saya mengenal hal lain tentang dia, Mau mencoba hal baru, Protective, Caring and He Loves his Family.

Please follow and like us:
B. Economics MBA-Entrepreneurship Data Analytics Certified Reach me at saraswatisepti@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Translate »