Komitmen hubungan : The Permission – Apakah kamu berani dan serius?

Komitmen hubungan

Komitmen hubungan : The Permission – Apakah kamu berani dan serius?

“The right relationship won’t distruct you from GOD, It will bring you closer to Him.

Komitmen hubungan – Satu bulan setelah perkenalan, saya merasa sudah bersama dia selama satu tahun. Pernahkah saya meragukan dia? tidak pernah. Kita selalu berusaha untuk saling mengenal, bercerita satu sama lain tentang bagaimana hubungan kita dengan pasangan sebelumnya, hal terburuk apa yang pernah terjadi dan memastikan semua itu sudah berlalu. Saya hanya mencoba untuk berpikiran terbuka, tidak memaksakan hubungan yang akan kita jalani dan membuat komitmen untuk hubungan kita berdua. Komitmen kita adalah untuk sama-sama menjadi lebih baik, kita berdua bukan manusia yang sudah baik tapi mungkin jauh dari baik.

Suatu saat saya bertanya kepada dia, mungkin di sekitar minggu ke tiga, “apakah kamu berani datang kepada kedua orang tua saya?” Dia hanya menjawab, “apa yang membuat saya tidak berani, saya serius dengan kamu, saya akan meminta izin kepada kedua orangtua mu, dan menjelaskan bahwa sekarang kamu bersama saya.” Saya bertanya kembali, “kapan kamu akan datang ke rumah saya?” Dia menjawab,”Minggu depan pun saya siap datang ke rumah orang tuamu, saya orang timur, saya tidak takut.” Saya hanya tersenyum. Kebetulan di minggu ke-4 kita setelah berkenalan, saya akan pergi open trip ke Pulau Pahawang bersama teman kantor, dan dia langsung mengajukan diri untuk bergabung. Saat itu saya bingung, saya pergi berlibur bersama lelaki, walaupun saya pergi dengan teman-teman perempuan dari kantor, namun saya tetap tidak tenang jika tidak izin orang tua.

Di satu sisi saya takut untuk meminta izin karena saya baru kenal dengan dia, saya takut orang tua saya berpikir negative. Dia menyarankan saya untuk meminta izin, kalau perlu dia yang akan meminta izin. Akhirnya saya mencoba untuk bbm orangtua saya, memberi kabar bahwa saya sekarang sedang bersama pria yang baru saya kenal, dia punya niat serius, dan akan datang ke rumah secepatnya. Orangtua saya membalas bbm tersebut dengan memberitahu bahwa mereka merasa senang dan terharu. Saya pun menjelaskan bahwa saya akan pergi berlibur ke Pulau Pahawang bersama dia dan teman-teman kantor. Orangtua saya menjawab bahwa mereka lebih tenang kalau saya ada yang temanin dan bersyukur akhirnya ada yang jaga saya di Jakarta.

Setelah kembali dari Pulau Pahawang, dia memutuskan untuk datang ke rumah saya di Bandung pada akhir pekan. Waktu itu saya pergi duluan ke Bandung, karena kebetulan dia baru datang dari Makassar. Jumat malam, dia mengantar saya sampai travel. Saya merasa tegang karena esok harinya dia akan datang ke rumah untuk meminta izin kepada orang tua saya. Saya memberitahu dia, lebih baik dia langsung yang meminta izin, karena orang tua saya tidak tahu juga dimana akan memulai pembicaraan besok. Dia menjawab, “Semua akan baik-baik saja, saya sudah siap.”

Sabtu pagi (13 Feb 2016), saya jemput dia di travel. Dia terlihat tenang tidak gugup. Akhirnya kita berdua sampai di rumah. Orangtua saya langsung menyambut. Awal pembicaraan semuanya berjalan lancer, hanya perkenalan. Pembicaraan terus berlangsung, namun terkadang berhenti karena tidak menjurus ke niat awal kita. Orangtua saya tidak tahu harus mulai darimana sampai akhirnya saya berbisik pada dia untuk mulai saja pembicaraannya. Dia pun langsung merespon dan bicara langsung kepada bapak saya, ” ya pak, saya ke sini mau meminta izin, sekarang septi sama saya, saya jaga septi di Jakarta, saya punya niat serius dengan septi, saya siap menikahi septi tapi munkin awal tahun depan karena saya masih ada project yang harus diselesaikan dan begitu juga septi, dia sedang ada focus pada pekerjaan.” Orangtua saya pun menjawab,”ya saya senang kalau ada yang serius dengan septi, apalagi ada yang jaga, karena septi jauh di Jakarta sedangkan kita di Bandung, kita selalu khawatir apalagi dia perempuan. Soal pernikahan, ya Alhamdulillah kalau ada niat serius, soal waktu saya serahkan saja pada kalian.” Dia pun bertanya kepada orangtua saya,”untuk soal mahar, di sini gimana adatnya ya, berapa ya maharnya.” Kebetulan adat kita berbeda, dia merupakan orang Makassar-Bugis dan saya Sunda. Saya dan keluarga pun menjawab untuk mahar di sini tidak ada, yang penting pernihakahan ini selamat dan lancar.

Awal pertemuan kita, perkenalan dan permintaan izin dia kepada orangtua semua sudah merupakan rencana Allah SWT, saya tidak pernah berpikir mengapa ini bias terjadi. Sejak saya mengenal dia, saya hanya focus bagaimana saya bisa membangun masa depan dengan dia dan terus bersama-sama menjadi lebih baik. Semenjak saat itu, kita berdua mempersiapkan rencana pernikahan, sampai akhirnya kita berdua berpikir ulang untuk mempercepat pernikahan. Saya bertanya kepada dia, “kita sudah mulai mempersiapkan pernikahan, tapi saya sendiri belum bertemu orangtua kamu, untuk perkenalan saya sudah lakukan via telpon, saya takut karena kita mulai persiapan tapi saya dan keluarga saya belum bertemu orangtua kamu.” Sekali lagi dia merasa tertantang, sama seperti ketika saya bertanya apakah dia berani meminta izin kepada orangtua saya, namun kali ini dia tersinggung, dia menjawab,”Kalau kamu tidak percaya saya, saya mau bawa orangtua saya datang minggu depan ke rumah kamu, sekarang saya telpon orangtua saya.” Ya saya salah, karena saya mempunyai ketakutan, dan masih belum sadar kalau dia memang serius memiliki niat dengan saya. Dia pun menelpon orangtuanya, dia meminta orangtuanya untuk datang pada akhir minggu. Sebelumnya, dia sudah bercerita kepada orangtuanya, bahwa dia mempunyai niat untuk menikah. Pada saat dia telpon untuk meminta orangtuanya datang ke Bandung, Ibunya bertanya apakah dia serius? jangan main-main dengan anak orang lain. Dia pun meyakinkan ibunya bahwa dia serius. Akhirnya orangtuanya pun menyetujui untuk datang ke Bandung pada akhir pekan. Sekali lagi saya mendapat penjelasan nyata kalau dia memang serius.

Sabtu, 26 Maret 2016.

Akhirnya pertemuan keluarga pun terjadi, ya hanya kedua keluarga inti. Saya bertemu keluarganya lebih awal yaitu Jumat 25 Maret 2016 di Bandara Soekarno-Hatta ketika mereka baru tiba di Jakarta. Pertemuan keluarga pun berlangsung pada siang hari, semua diawali dari perkenalan  dan pembicaraan biasa, seperti adat budaya masing-masing, makanan khas daerah dan akhirnya menjurus kepada pernikahan. Setelah semua nya dibicarakan, kedua orangtua sepakat untuk pernikahan akan dilakukan November atau setelah Idul Adha.

Syarat acara resepsi pun tidak terlalu banyak, kita menggunakan adat sunda. Selain perkenalan, ternyata dia dan keluarganya membawa kain khas makassar dan sebuah cincin. Ya saya tidak menduga hal itu, karena untuk acara perkenalan ini, saya tidak mengharapkan apa-apa bahkan tidak memikirkan sebuah cincin. Namun ternyata dia sudah mempersiapkannya termasuk ukuran cincin dengan meminta bantuan sahabat saya Shofifah. Untuk cincin, dia hanya mempersiapkan 1 karena dia akan membeli cincin lainnya untuk dia pasang di jari dia namun tidak terbuat dari emas. Ya dari awal kita sudah sepakat tidak akan menggunakan cincin emas untuk dia sesuai dengan ajaran agama kita.

Semua terjadi begitu cepat, dari awal pertemuan hingga perkenalan keluarga. Keyakinan saya terus bertambah seiring semua hal yang kita lalui untuk menuju pernikahan kita, sikap dan masalah kita, membuat kita saling mengenal satu sama lain. Untuk tanggal pernikahan, kita terus mengubahnya, seiring dengan permintaan orangtua. Kita mempercepat pernikahan kita, orangtua dia bertanya kenapa kita tidak menikah saja sebelum bulan Ramadhan, karena kita berdua jauh dari orangtua dan tinggal di Jakarta. Setelah banyak pertimbangan akhirnya kita melangsungkan pernikahan pada tanggal 4 September 2016, ya 4 bulan lebih awal dari niat kita dan 7 bulan setelah kita pertama kali kenal. Untuk acara pernikahan dan persiapannya, saya kan menceritakan ditulisan saya selanjutnya :).

Komitmen Hubungan

Seperti tulisan saya sebelumnya The Beginning (Do you believe in God Will?) , saya akan menceritakan bagaimana saya bisa mengenal karakter dia di setiap akhir tulisan. Apakah saya orang yang suka diatur? tidak, saya tidak suka diatur tapi saya orang yang ingin diarahkan. Ya dia orang yang tegas untuk menjadikan saya lebih baik, kenapa saya bisa mau mendengarkan dia? karena dia memberikan contoh, dan dia memberikan alternative yang lebih baik.

Ketika saya bersama dia, saya dalam masa peralihan. Sebelumnya, saya habiskan waktu saya untuk bermain seusai pulang kerja, saya bisa pulang tengah malam atau bahkan menuju subuh hanya untuk main. Saya bekerja hingga tengah malam, pekerjaan pun saya bawa ke kost. Tapi ketika bersama dia, dia tidak suka saya pulang lebih dari jam 10 malam, kalaupun memang ada pekerjaan dan harus pulang jam 10 malam, dia akan menjemput saya. Saya suka dan hormati dia, karena dia melakukan hal yang memang seharusnya seperti itu. Saya hanya mau diarahkan dan dia pun selalu menemani saya setiap saat, komunikasi kita tidak terputus. Itulah yang saya suka. Untuk hal ibadah, kita saling mengingatkan, dan Alhamdulillah dia pun terus memperbaiki ibadahnya, sama seperti saya.

Masa peralihan itu merupakan masa dimana saya yang terus lari dari semua ketakutan dengan melakukan hal-hal yang saya piker itu menyenangkan dan masa dimana saya harus kembali mempunyai tujuan, dan sadar bahwa ada orang yang mau memperjuangkan saya dan mencintai saya tulus, ya dia mencintai saya, jiwa saya bukan fisik saya. Beberapa kali saya melakukan hal “yang tidak seharusnya” saya lakukan, dia pun memergoki saya. Dia kesal dan marah, saya hanya meminta maaf. Saya lakukan itu berkali-kali, dan dia berkata jika kau lakukan itu artinya kau menyakiti saya dan berbohong kepada saya. Kata-kata itulah yang membuat saya menahan diri. Namun saya adalah saya, manusia dengan segala ketakutannya, segala “hal di dalam pikirannya” dan saya tidak bisa hindari itu. Tapi dia tetap bersama saya, membantu saya melewati ini semua.

Dari bulan kedua kita berkenalan sampai saat ini, dia selalu antar jemput saya, jalan kaki ke kostan dan kantor saya sampai akhirnya ada motor yang dia kirim ke Makassar. Dia tidak pernah melewatkan hal itu, kecuali kalau dia sedang di luar kota. Untuk hal pekerjaan pun, dia selalu berusaha tetap ada untuk saya. Dia tidak pernah mau bekerja di luar kota pada akhir pekan, kecuali di Bandung, karena saya selalu ikut dia kalau ke Bandung. Dia bisa jemput saya untuk makan siang ketika saya “butuh” dia. Terkadang dia menyiapkan Coklat dan Susu sebelum dia pergi ke luar kota, tanpa sepengetahuan saya. Dia selalu Video Call setiap hari ketika di luar kota. Dia selalu menemani saya tidur via Video call atau telpon. Dia selalu menemani saya ketika saya dalam fase “down” bahkan dia tidak bekerja ketika itu terjadi. Saya merasa tenang dan yakin dengan semua sikap dia. Hal ini dia lakukan dari sebelum kita menikah. Walaupun hal ini menjadi beban bagi saya, dia merelakan semua waktu nya untuk saya, namun hal ini juga yang memotivasi saya untuk bisa “mengontrol” diri saya, saya tidak mau dia terus begini, mengorbankan waktu bekerja dia untuk saya. Untuk “hal” dalam diri saya ini, akan saya ceritakan di tulisan lainnya.

Dia mencintai saya bukan dari fisik saya, saya tidak pernah make up, memakai baju mahal atau menutupi semua kekurangan saya. Tidak ada hal yang saya tutupi, saya selalu berusaha untuk itu. Dia tidak saya memakai pakaian yang tidak pantas, tidak suka jika saya mendengarkan orang lain tentang cara berpakaian, dan tidak suka kalau saya menyembunyikan fase buruk saya ketika itu terjadi.

“Hello Chandra, please keep holding me when I’m down, and control me when I’m up, If you ask me how much I love you, then ask Allah. I really be grateful to meet you and to live with you for the rest of our life.”

Please follow and like us:
B. Economics MBA-Entrepreneurship Data Analytics Certified Reach me at saraswatisepti@gmail.com

One thought on “Komitmen hubungan : The Permission – Apakah kamu berani dan serius?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Translate »