The Beginning (Do you believe in God Will?)- Cinta

Cinta

The Beginning (Do you believe in God Will?)- Cinta

Cinta – Pertemuan pertama

Apakah kalian pengguna sosial media? Saya yakin hampir semua orang pernah menggunakan sosial media, entah untuk browsing, update status, posting foto, atau hanya sekedar mencari pengakuan, Eh.  Im the one who use social media routinely. I read news from social media and post several funny thing in social media (I think its funny, but who knows 🙂 🙂 ? ). Sebenarnya saya suka mencari teman, berteman dan bertukar cerita. But it more easily in media social not in real life. Why ? because I hard to trust people, I just have some bestfriends. Maybe I will tell story about my best friends next time. Kembali ke social media tadi, saya menggunakan beberapa sosial media seperti facebook, path, instagram, line, whatsapp, dan BBM.

Suatu ketika, saya mencoba salah satu aplikasi sosial media yaitu tinder. Aplikasi ini berbeda dengan media sosial lainnya karena aplikasi ini lebih spesifik, yaitu mencari teman sesuai kriteria kita. Kita bisa atur teman chat yang seperti apa yang cocok untuk kita, bisa dari umur, jarak dan kelamin. Tentunya saya setting umur, jarak dan kelamin. Kelamin? iya saya mencari lawan jenis yang bisa di ajak ngobrol, kalau saya pilih sesama jenis agak awkard juga ya.. Im normal :). Niat awal sih iseng-iseng berhadiah, ada teman ngobrol dan mungkin dapat jodoh. Sebenarnya hal yang sangat tidak mungkin bagi saya untuk berteman secara nyata dari teman media sosial. Im never have courage to meet people especially a man. I think every people will have eyes on me, my mind always tell that people dont like me. Oh ya, darimana saya tahu aplikasi tinder ini? salah satu teman saya menggunakan aplikasi ini untuk sekedar chat dengan foreigner 🙂 dia adalah Nur Azizah (I will thanks to her later).

Di awal January 2016, saya mempunyai beberapa teman chat di tinder. Chat nya sih cuma sekedar perkenalan biasa dan pembicaraan tentang happening issue. Maybe some guy try to know me more than friend. Sometime I have intention too but trust me Im not really trust people moreover in social media. Suatu saat, saya dapat pemberitahuan match friend from tinder. The guy is Chandra Pramudya. Saya lupa kapan saya mulai right swipe  di tinder untuk orang ini. Liat dari foto profilnya saya hanya ingat right swipe karena untuk umurnya cukup dewasa dan terlihat seperti lelaki baik-baik atau rumahan. Akhirnya kita mulai chat, saya sudah screen capture untuk chat tinder ini karena ini adalah awal mula cerita dari alasan sekarang saya sudah menggunakan cincin di jari manis sebelah kanan :).

 Setelah itu kita langsung berpindah ke line karena chat di tinder itu kadang tidak ter refresh langsung jadi chatnya telat masuk. Satu minggu kemudian, waktu itu habis pulang kerja, saya chat dia dan menanyakan apakah dia pernah makan soto ceker di sekitar sarinah. Kebetulan waktu itu saya lagi lapar, dan emang niat untuk jalan keluar. Akhirnya dia respon chat dan ngajak jalan keluar malam itu juga. Apa respon saya selanjutnya ? saya jawab ya, sangat luar biasa bagi saya. Tidak ada pikiran bahwa orang ini akan buruk bagi saya atau memandang saya aneh tidak seperti wanita lainnya yang cantik berdandan :). I didnt know how it happened, my mind just keep peace, no voice anymore, no fear, no paranoia, thanks God to have your hand in me that night. Akhirnya kita janjian ketemu di depan gang kostan saya. Dia bilang jemput saya pakai taksi. Oke saya tunggu dia depan gang, hanya menggunakan jeans, kaos belang-belang biasa dan sendal.

No jacket for that night, I forgot to bring it. Jacket is the one thing I always bring anywhere, I feel safe if I wear it same as if I use my blanket when I sleep. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya ada taksi yang menepi, dan jendela taksinya pun terbuka. Oke Its him. Saya pun masuk ke dalam taksi, dan langsung bersalaman untuk memperkenalkan diri. Dalam taksi memang gelap, saya tidak melihat dia dengan jelas, hanya senyumnya yang terlihat. Kita pun ngobrol satu sama lain seolah-olah sudah kenal sejak lama. Dia memang tipe orang yang menyenangkan, selalu mencoba untuk membuat tertawa walaupun kadang garing :p . Sekali lagi saya tidak percaya bahwa saya bertemu orang baru, kenal di dunia maya, tidak tahu asal usulnya, tidak tahu kebenarannya tapi saya merasa tenang dan aman saat itu.

Dalam perjalanan dia bertanya akan jalan kemana, saya hanya bilang terserah yang penting makan soto. Dia merekomendasikan Soto yang ada di jalan jaksa, tempat langganan dia. Sampai di jalan jaksa ternyata penjual soto tidak berjualan, akhirnya kita menuju soto ceker di sarinah, tempat yang saya rekomendasikan di awal. Saat makan soto kita tetap ngobrol seolah-olah sudah kenal lama. Dia meminta id Path saya, mungkin ini tanda-tanda dia punya kepercayaan diri yang tinggi. Ketika pesanan kita datang, saya baru tahu kalau dia tidak pernah makan ceker sebelumnya, luar biasa memang, saya bisa tahu karakter dia, dan usaha dia. Saya tanya dia, masalah atau tidak bagi dia kalau makan dipinggir jalan seperti ini? karena saya memang seperti ini. Dia jawab, itu tidak masalah karena dia juga suka makan makanan pinggir jalan. Selama kita makan dan ngobrol, beberapa kali saya tutup muka karena dia selalu memandang saya, yaa sekali lagi ini bukan hal biasa bagi saya untuk jalan dengan orang baru apalagi kontak mata secara langsung. Saya lupa apa saja pembicaraan kita waktu itu, yang saya ingat kita hanya bahas mengenai kita berasal dari mana dan sudah berapa lama tinggal di Jakarta. Akhirnya kita selesai makan, saya menawarkan diri untuk bayar makanan atau minimal bayar masing-masing, tapi dia menolak, dia bayar semuanya. Aneh? mungkin saya yang aneh, hal yang aneh bagi saya untuk dibayarkan makanan oleh orang lain atau seorang lelaki. ya saya yang aneh.

Dia menanyakan apa rencana setelah makan, saya jawab mungkin kita bisa nonton film. Kebetulan malam itu saya memang sedang ingin keluar dan berinteraksi dengan orang lain ya dia, entah kenapa. Kita pun coba cek film di Djakarta Theater, dia menawarkan untuk menonton IP Man, tapi ternyata tidak ada jadwal untuk film tersebut. Akhirnya dia menawarkan tempat lain seperti Gading XXI atau ke Kota Kasablanka, saya bertanya bagaimana saya pulang nanti. Dia pun menjawab akan mengantarkan saya sampai Kost. Kita pun menuju Kota Kasablanka menggunakan taksi, selama di taksi dia menelpon temannya dengan bahasa Makassar, saya hanya bisa tersenyum karena tidak paham pembicaraan tersebut. Dia pun sesekali menjaili saya dengan sedikit humoran, mungkin saat itu pak sopir taksi saksi pertama kita, sopir tersebut ikut menjaili saya, karena dia sudah kita beri tahu bahwa ini pertama kali kita bertemu. Oh ya, malam itu dia menggunakan poloshirt, jeans dan sendal, serta tas kecil dia yang tidak pernah ketinggalan. Saya masih berpikir dia lelaki baik-baik, lelaki rumahan. Setelah sampai di Kota Kasablanka akhirnya kita dapat jadwal nonton IP Man. Ada yang menarik disini, saat kita sampai di Kota Kasablanka, dia beranikan diri untuk memegang tangan saya. Kaget? ya saya kaget, tapi sekali lagi saya merasa aman dan tenang. Satu hal lagi yang tidak saya lupa malam itu, saya melihat dia terus tersenyum menatap mata saya, entah mengapa hanya itu yang terus dia lakukan. Kita pun memilih tempat duduk, dan ketika akan membayar tiket, saya menawarkan diri kembali untuk membayar tiket tapi dia menolaknya. Oke saya harus mulai bisa menyesuaikan untuk tidak “aneh”.

Dalam bioskop dia selalu berkomentar tentang film tersebut, komentar-komentar nyeleneh yang bikin tertawa. Dia pun menutup mata saya ketika ada adegan kekerasan, ya saya takut akan hal itu. Sesekali saya menoleh ke arah dia dan ternyata dia sedang melihat saya dengan senyumannya, saya tanya mengapa? dia hanya jawab tidak apa-apa dan tidak tahu kenapa. Finally we have to end the night, dia mengantarkan saya pulang sampai depan kostan. Ketika menutup pintu kost, dia terus melihat. What a beautiful night, dia chat saya kembali, dan kita sama-sama mengucapkan terimakasih untuk pertemuan malam itu. Dia pun mengajak saya untuk bertemu kembali.

Dua hari kemudian, dia mengajak untuk bertemu kembali. Saya ajak dia untuk lari malam sepulang kerja. Dia pun datang ke kost saya dengan membawa tas gym nya. Dia menggunakan kemeja lengan pendek dan sandal. Sekali lagi saya berpikir bahwa dia lelaki baik-baik dan rumahan. Kita pun menuju GBK menggunakan busway. Saya menggunakan pakaian olahraga dan dia pun begitu. Hanya membawa handphone dan uang di saku. selama perjalanan kaki menuju busway kita terus saling melemparkan humoran. Dalam busway pun kita terus mengomentari sekitar yang membuat kita tertawa. Setelah sampai di GBK akhirnya kita mulai lari dengan mengelilingi GBK bagian luar. Kebetulan saat itu saya sedang hobi olahraga terutama lari, saya bisa lari hingga 5 KM tapi berbeda dengan dia, dia hanya melakukan Gym tapi tidak terlalu suka lari. Sepanjang olahraga kita terus berbicara satu sama lain, hingga tak terasa kita sudah mengelilingi GBK sebanyak 10 kali. Walaupun akhirnya hanya berjalan kaki, tapi tidak terasa cape.

Waktu itu sekitar jam 10 malam, kita akhirnya pergi mencari makan di sekitar sarinah. Dari GBK kita memutuskan untuku pergi menggunakan busway, turun di halte sarinah dan jalan kaki hingga ke daerah kebon sirih. Memang luar biasa malam itu, keringat keluar namun tak terasa. Kita memutuskan untuk makan nasi goreng, saya bertanya lagi apakah masalah kalau jalan kaki, naik busway, dan jalan dengan perempuan berkeringat, bau keringat dan tidak make up. Dia menjawab semua itu tidak masalah, dan dia suka. Sekitar jam 11 kita pulang menuju kostan, tas gym dia ada di kost jadi dia harus mampir di kost saya, walaupun apapun kondisinya dia pasti mengantarkan saya. Kita pun kembali berjalan kaki menuju halte sarinah dan turun di halte monas.

Jalan kaki tengah malam hari, lumayan jauh ke kost, dia pun tiba-tiba memegang tangan saya kembali. Saya hanya tersenyum, karena saya merasa jauh lebih aman. Akhirnya sampai di kost, kebetulan kost saya khusus perempuan, laki-laki dilarang masuk. Sehingga dia seperti biasa menunggu di luar pagar, waktu itu daerah kost saya memang selalu rame karena banyak pos ronda jadi banyak orang yang nongkrong-nongkrong sampai malam. Dia pun pulang setelah saya memberikan tas gymnya, sekali lagi dia hanya menatap saya.

Keesokan harinya, kita tetap melakukan komunikasi via line. Kita memutuskan untuk jalan bareng kembali di weekend. Waktu itu, Sabtu….. January 2016, dia mengajak saya untuk menonton film, seperti biasa saya meminta dia untuk memutuskan pergi nonton dimana, akhirnya dia memilih untuk nonton di Kelapa Gading. Kita pergi menggunakan busway yang disambung dengan angkot ketika sampai Kelapa Gading. Sebelum masuk ke theater, kita duduk diluaran theater. Seperti biasa kita mengomentari sekitar, dan obrolan semakin menjurus ke hal yang lebih serius. Dia menanyakan apakah saya mau jalan bareng-bareng dia ke arah yang lebih baik. Saya hanya menjawab, saya masih menuju hal yang lebih baik, saya mencari orang  yang bisa bawa saya lebih baik, saya bukan tipe orang yang alim, tapi saya selalu mencari jalan yang terbaik. Oh ya sebelumnya, selama beberapa hari kita chat dan ngobrol, kita selalu membahas cerita awal dan masa lalu kita. Saya tanya beberapa hal tentang hal terburuk apa yang pernah dia lakukan begitu juga dengan saya. Niat saya adalah saya tidak mau ada hal yang ditutupi atau saya tidak mau mempunyai mind set yang salah mengenai dia.

Kita pun terbuka satu sama lain. Balik ke ajakan dia sebelumnya, apakah saya mau jalan bareng dia ke arah yang lebih baik? bersama-sama menjadi baik. Saya pun menjelaskan, saya mencari yang serius, tidak usah pacaran, saya mau langsung serius dalam mencari pasangan, dan saya adalah tipe orang yang sulit percaya. Saya perlu waktu untuk percaya dia dan masih banyak target saya terutama dalam bekerja. Dia pun menanggapi hal itu dengan positif, dia menjelaskan bahwa dia akan terus berusaha meyakinkan saya, dia sedang memiliki banyak proyek dan target, dia mau menikahi saya mungkin awal tahun depan (i.e 2017). Saya tanya kembali apakah saya harus jawab sekarang? saya butuh waktu, dan saya adalah orang yang sangan kompleks. Namun saya akhirnya menjawab, oke saya mau jalanin ini, tapi apakah kamu serius? dan apakah kamu mau menjelaskan kepada keluarga saya? dia pun menjawab saya siap bertemu dengan orangtua kamu, kapanpun itu. Finally ini lah awal perjalanan kita. Tanpa ada ikatan, ikatan kita hanya niat untuk bersama-sama menjadi lebih baik.

Ada sedikit tambahan cerita untuk menjelaskan mengapa saya selalu merasa aman dengan dia :

Keesokan harinya, kita tetap melakukan komunikasi via line. Saya sempat bercerita kalau saya mencari kostan baru, karena kostan yang lama ini terlalu sempit dan selalu ada kecoa. Saya tidak tenang, dan tidak bisa tidur. Dia pun menanggapi nya dengan meminta saya segera pindah, karena setelah beberapa kali mengantar saya pulang, dia khawatir dengan lingkungan sekitar. Apalagi saya selalu pulang malam dan harus melewati tempat gelap penuh dengan lelaki. Akhirnya 1 Minggu kemudian, kita berdua mencari kost-kostan jalan kaki dengan berkeliling di sekitar daerah petojo binatu. Dia sudah menyiapkan rute pencarian kostnya, dengan pad kesayangan dia, dia mengatur semuanya, dia mencari jarak jalan kaki dari kantor ke kostan baru, rute amannya, dan berapa menit waktu yang dibutuhkan untuk pulang pergi ke kantor. Alhamdulillah kita pun menemukan 1 kostan yang cocok, walaupun belum dibersihkan kamarnya, dia langsung minta saya untuk pindah karena dia selalu khawatir dengan keadaan kost saya sebelumnya. Keesokan harinya, dia membantu saya pindahan. Dia bawa adik juniornya, aqieb. Dengan menggunakan motor dia bolak-balik angkut barang, dan saya hanya merasa kagum karena melihat dia siap menerima saya dalam keadaan saya yang seperti ini.

Cerita lain lagi, suatu saat kita janji untuk ketemu di daerah kantor saya, waktu itu saya hanya menggunakan luaran batik dengan dalaman kaos pendek, karena merasa tidak nyaman, sebelum saya bertemu dia, saya meminjam kain pasmina teman kantor untuk menutupinya. Hmm ternyata dia sedikit marah ketika tau bahwa saya menggunakan pakaian seperti itu. Selanjutnya, ketika kita sedang mengobrol, hape saya berbunyi dan ada chat dari Whatsapp, yang ternyata itu adalah lelaki lain (sebelum kenal dia) yang sedang melakukan pendekatan dengan saya. Dia berkata, hapus ya, sekarang kan kita sudah berkomitmen untuk baik sama-sama. Cerita lain lagi, kita pernah jalan untuk menonton film di malam minggu, waktu itu saya ingin menggunakan dress sedikit di atas lutut. Awalnya dia keberatan. Tapi ketika sampai di mall, dia merasa risih dan akhirnya belok ke sebuah toko dan membelikan kardigan panjang. Dia bilang dia merasa tidak aman dengan pakaian saya seperti itu.

Saya bisa melihat karakter dia, dan ini salah satu alasan saya mau mencoba jalan ke arah yang lebih baik bersama dia. Dia mempunyai komitmen, sangat terlihat untuk terus memperbaiki diri, perhatian, melindungi, tegas dan menyayangi tanpa sebuah alasan. Oh ya, dia pernah bicara kepada saya, ketika awal kita bertemu, dia sengaja ajak saya pergi jalan menggunakan busway dan angkot. Dia hanya ingin tahu apakah saya bermasalah atau tidak pergi dengan kendaraan umum? jawaban saya tentu tidak, saya tidak pernah bermasalah pergi dengan menggunakan kendaraan umum. Kita berjuang dari awal, saya lebih menghargai dia karena dia mau hidup bersama saya dengan uang dia sendiri bukan dari orangtua.

Apakah kejadian ini berlangsung secara lancar sepenuhnya? tidak. Saya tegaskan kembali pikiran saya tidak akan pernah berhenti berbicara, ini bukan tentang dia, tapi tentang orang disekitar saya. Ada respon positif dan ada juga respon negatif. Ada yang bertanya apakah dia serius? apakah saya yakin? karena dia terlihat posesif? apakah saya mau di atur-atur? belum menikah tapi sudah banyak larangan salah satunya untuk pulang sebelum jam 10 malam? yang saya tahu semua pertanyaan itu hanyalah bualan, hanya membuat pikiran saya kusut. Selain itu, sebelum bertemu dia, hampir kebanyakan orang beranggapan saya tidak dapat pasangan karena saya tidak make up, karena saya tidak bisa mempercantik diri, sorry im not kinda woman. Seperti saya katakan sebelumnya saya sulit mempercayai orang, tapi saya memiliki beberapa orang yang saya percaya, ya teman baik. Respon dari teman baik saya adalah sangat positif, memberikan support dan mereka bahagia. Suatu ketika saya hubungi orang tua saya via bbm, saya bilang saya sedang bersama lelaki saat ini namanya Andi Chandra Pramudya, dari Makassar umur kita beda 4 tahun, di Jakarta baru 2 tahun sama seperti saya, dan dia mau menikahi saya dan secepatnya akan pergi ke Bandung untuk meminta izin dan memberitahu bahwa sekarang septi bareng dengan dia. Apa reaksi orang tua saya? mamah saya menangis dan bapak saya tersenyum.

“You know what? maybe I never be have my mind quite,Im always scare of everything, people around me always judge me (yeah bad friends I think) but since I was child until now, I always pray and believe to God, God have plan, God can control our heart, and God always answer our wish. If you think Im not normal people, I dont care because God create us on purpose”. – Septi Saraswati, February 6, 2017.

See you in my next blog, I will tell about our first holiday trip and story about how he ask permission to my parent, yes his purpose to married their daughter.

Let's connect
Passionate about Data Analytics, Entrepreneurship, and Business Strategy. Exploring the intersection of data-driven insights and innovative business decisions. B. Economics | MBA-Entrepreneurship | Data Analytics Certified | Analyst and Research Reach me at saraswatisepti@gmail.com or hai.ssaras@gmail.com

2 thoughts on “The Beginning (Do you believe in God Will?)- Cinta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Translate »