Inflasi Stabil saat Kurs Rupiah Melemah

Inflasi Rupiah

Inflasi Stabil saat Kurs Rupiah Melemah

Beberapa bulan terakhir, saya baca berita mengenai nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dollar. Saya iseng cek data inflasi eh kok malah stabil? Emang bisa ya, bukannya saat nilai tukar Rupiah melemah berarti itu inflasi? 

Bagi masyarakat atau ibu-ibu seperti saya hehehehe kalau baca berita sekilas tentang melemahnya Rupiah, pikiran langsung berfokus pada inflasi, “wah inflasi nih, harga-harga pada naik nih.” Sebenarnya melemahnya Rupiah itu bukan inflasi atau lebih simplenya pengertian inflasi itu berbeda dengan depresiasi Rupiah. Kedua hal tersebut memang berkaitan, namun bukan kedua hal yang sama.

Tiba-tiba saya jadi bahas ekonomi? biasanya buat tulisan soal kehidupan atau keluarga, niat banget ya hahaha. Sebenarnya saya ikut lomba Essay Nasional yang diadakan oleh salah satu organisasi pendidikan, terus salah satu temanya adalah mengenai inflasi nilai tukar Rupiah. Saya mulai tertarik karena setahu saya melemahnya rupiah yang sangat cukup lumayan nilainya, tidak sebanding dengan kenaikan nilai harga barang di pasaran, hmmm saya merasa ada yang aneh. Akhirnya saya buka lagi buku makroekonomi pas kuliah, dari N. Gregory Mankiw dan beberapa jurnal dan essay ekonomi lainnya, ternyata nilai tukar itu belum tentu sama besar perubahannya dengan inflasi.

Walaupun saya tidak masuk 100 besar dalam lomba Essay tersebut (iya lah karena essay saya hanya sebatas menangkap fenomena tapi tidak memberikan solusi), setidaknya saya dapat ilmu baru lagi soal makroekonomi hehe. Saya kerjain essaynya sambil jagain Sal, kadang sehari cuma sejam kerjainnya, ya mau gimana lagi, namanya juga ibu-ibu terlalu banyak aktivitas rumah tangga lain hahaha (padahal cuma tiduran sama main instagram deng 😜).

Oke saya copy disini ya essay saya kemarin, selamat membaca, jangan lupa sediain kopi biar rileks bacanya, ga emosi karena susah dipahami (dibaca: ngawur).

KINERJA PEREKONOMIAN ANTARA STABILITAS INFLASI DAN PELEMAHAN NILAI TUKAR RUPIAH : EKONOMI SEBAGAI SUATU BANGSA (judulnya aja udah absurd 😄😄)

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir Indonesia menghadapi masalah perekonomian dalam nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Nilai tukar rupiah mengalami penurunan  (posisi nilai tukar rupiah per 31 Agustus 2018, data Bank Indonesia) sekitar 1.170 poin dari awal tahun 2018, sehingga terjadi kenaikan harga untuk barang-barang yang menggunakan kurs dolar (barang impor). Efek kenaikan barang impor ini secara tidak langsung mempengaruhi kenaikan harga barang dalam negeri sehingga daya beli masyarakat menjadi turun.

Fenomena ini dipandang masyarakat Indonesia sebagai inflasi. Inflasi merupakan fokus yang dijadikan persaingan dan pengukuran ekonomi oleh berbagai pihak baik itu pemerintah maupun pelaku ekonomi dalam dan luar negeri. Pemerintah berusaha menurunkan inflasi dengan berbagai cara melalui kebijakan moneter karena inflasi berkaitan dengan kinerja ekonomi pemerintahan.

Kinerja Ekonomi Negara

Kinerja ekonomi suatu negara merupakan indikator penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat baik secara individu (mikro) maupun secara berkesinambungan (makro). Pelaku ekonomi cenderung menjadikan nilai tukar rupiah sebagai alat untuk mengukur inflasi secara umum terutama bagi masyarakat awam. Hal ini dikarenakan ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar, pelaku ekonomi menganggap harga-harga menjadi mahal sehingga nilai tukar rupiah selalu dikaitkan dengan terjadinya inflasi.

Fenomena yang terjadi sekarang di Indonesia adalah Pemerintah berhasil menjaga tingkat inflasi tetap stabil di angka 2.3% ditahun 2018 bahkan menurun (deflasi) di bulan Agustus 2018 sebesar 0.05% dibeberapa kota. Kinerja ekonomi Indonesia juga memiliki poin positif saat ini (triwulan-II 2018) yaitu tumbuh 5.27% (Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi September 2018, BPS). Namun permasalahan ekonomi terjadi pada nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah. Pelemahan nilai tukar rupiah bisa memberikan efek terjadinya inflasi di Indonesia walaupun kenyataannya pemerintah berhasil menjaga kestabilan inflasi selama tahun 2018.

Uang sebagai alat tukar

Uang merupakan alat tukar yang digunakan masyarakat untuk bertransaksi. Semakin banyak kebutuhan transaksi yang terjadi dimasyarakat maka semakin banyak uang yang dipegang oleh masyarakat. Kuantitas uang yang dipegang oleh masyarakat atau bisa juga disebut dengan jumlah uang yang beredar (real money balances) dapat mempengaruhi ekonomi dalam jangka panjang terutama jika diukur terhadap nilai mata uang negara lain (kurs). Begitu juga rupiah, pelemahan nilai tukar rupiah dikarenakan meningkatnya kuantitas rupiah yang beredar di masyarakat dibandingkan dengan dolar. Berikut data nilai tukar rupiah selama tahun 2018 :

Inflasi Rupiah

Masyarakat sebagai pelaku ekonomi menilai penurunan nilai tukar rupiah sebagai penyebab inflasi namun saat ini inflasi dan nilai tukar memiliki hubungan yang bertolak belakang. Kebijakan pemerintah untuk menjaga kestabilan inflasi atau bahkan mencapai deflasi belum tentu memiliki efek yang positif bagi unsur perekonomian lainnya, salah satunya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Masyarakat perlu memahami bahwa inflasi dan nilai tukar rupiah memiliki keterkaitan secara langsung dan tidak langsung dengan faktor penyebab yang berbeda agar bisa menilai kinerja pemerintah secara riil sesuai fakta di lapangan.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar memberikan dampak harga-harga menjadi naik terutama komoditas dengan yang berkaitan dengan perdagangan impor seperti bahan pangan dan bbm non-subsidi. Nilai impor ini seharusnya tidak mempengaruhi nilai tukar rupiah secara dominan jika Indonesia bisa memanfaatkan potensi alam yang dapat menghasilkan komoditas barang di setiap daerahnya. Indeks harga produsen pada triwulan ke II tahun 2018 menunjukan kenaikan 3.79% (y-on-y) seperti kenaikan di sektor pertanian sebesar 2.89% yang didominasi kenaikan pada subsektor perternakan sebesar 3.96% dan subsektor tanaman bahan makanan besar 2.78% serta kenaikan pada sektor industri pengolahan sebesar 2.63% (Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi September 2018, BPS).

Depresiasi Rupiah

Depresiasi rupiah ini dipengaruhi oleh isu ekonomi luar negeri yaitu naiknya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga obligasi Amerika dan kebijakan perdagangan Amerika dengan Cina[1]. Hal ini tentunya akan mempengaruhi perekonomian dalam jangka panjang jika depresiasi rupiah ini terus terjadi karena daya beli masyarakat akan menurun. Begitu juga dengan pelaku ekonomi industri (perusahaan swasta) akan terkena dampak negatif yaitu mengalami penurunan kemampuan pembayaran hutang dalam dolar jika belum melakukan hedging (lindung nilai) serta kenaikan biaya produksi seperti biaya bahan baku.

Kenaikan harga yang dipengaruhi oleh penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan menimbulkan inflasi dalam jangka panjang. Penurunan nilai tukar rupiah ini diakibatkan nilai impor yang lebih besar dibandingkan nilai ekspor sampai dengan Agustus 2018 sebesar US$ 4,09 miliar[2]. Namun fakta di lapangan, pemerintah Indonesia berhasil menjaga kestabilan inflasi pada tahun 2018, hal ini tentunya bertolak belakang dengan teori ekonomi klasik yaitu teori kuantitas uang dan persamaan Fisher yang menggambarkan hubungan sejajar antara pertumbuhan uang beredar, inflasi dan bunga nominal[3].

Kenaikan Harga secara Keseluruhan

Inflasi merupakan kenaikan harga-harga secara keseluruhan dalam jangka panjang. Ketika tingkat inflasi terus meningkat, pemerintah akan menghadapi masalah perekonomian karena daya beli masyarakat akan berkurang sehingga para pengusaha atau produsen akan mengalami penurunan penjualan. Sebaliknya, ketika pemerintah dapat menjaga kestabilan tingkat inflasi atau bahkan deflasi maka masyarakat akan lebih mudah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Berikut data inflasi Indonesia pada tahun 2018 :

Inflasi Rupiah

Inflasi dan penurunan nilai tukar rupiah menjadi topik yang selalu jadi fokus utama pelaku ekonomi di Indonesia karena kedua fenomena ekonomi ini dapat dijadikan bahan pengambilan keputusan ekonomi di masa yang akan datang. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, fenomena inflasi dan penurunan nilai tukar rupiah di Indonesia sampai Agustus 2018 ini memiliki fakta yang sedikit bertolak belakang dengan teori ekonomi klasik yang membahas kedua fenomena ini. Fakta angka inflasi yang menurun dan rupiah yang terus melemah menunjukan arah perubahan yang bertolak belakang.

Hal ini harus bisa dipahami oleh masyarakat dan pelaku ekonomi di Indonesia bahwa perubahan inflasi dan nilai tukar memiliki faktor penyebab yang berbeda. Tingkat inflasi dapat dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar rupiah namun tidak secara keseluruhan. Saat nilai impor lebih besar dari nilai ekspor maka nilai tukar rupiah akan melemah sehingga menyebabkan harga barang yang berkaitan dengan nilai impor akan mengalami inflasi, bukan keseluruhan harga barang secara nasional.

Pelemahan nilai tukar rupiah sampai Agustus 2018 yang dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi Amerika dan harga minyak dunia menyebabkan kemampuan daya beli masyarakat terhadap barang yang terpengaruh nilai impor menurun. Namun, berbeda dengan harga barang-barang yang dihasilkan dari dalam negeri (non-import) mengalami deflasi karena tidak terpengaruh oleh nilai tukar rupiah. Adapun beberapa komoditas yang tidak terpengaruh pelemahan nilai tukar rupiah adalah subsektor tanaman bahan makanan (deflasi 4.38%) dan subsektor perkebunan (deflasi 0.94%).

Hal ini menggambarkan bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia dapat menjaga kestabilan ekonomi tanpa terpengaruh secara dominan oleh isu dari perekonomian luar negeri jika bangsa Indonesia dapat memaksimalkan bahan komoditas dalam negeri tanpa melakukan impor atau setidaknya dapat mengurangi nilai impor. Berikut neraca perdagangan Indonesia yang menunjukan data ekspor dan impor sampai dengan Agustus 2018 :

Inflasi Rupiah

Perekonomian yang dibangun dalam negeri membutuhkan kesadaran bersama baik itu pelaku ekonomi dari masyarakat, perusahaan industri dan pemerintah itu sendiri. Potensi alam dan kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia yang berbeda di setiap daerah karena perbedaan karakteristik alam dan budaya harus dimaksimalkan agar dapat saling menutupi kebutuhan dari setiap daerah di Indonesia. Beberapa komoditas seperti garam, daging sapi, pupuk, bahan industri dan makanan yang masih impor bisa dikurangi jika bangsa Indonesia mampu mengoptimalkan produksi di dalam negeri[4]. Hal ini bisa dilakukan dengan adanya sosialisasi dan kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong masyarakat Indonesia dengan mudah melakukan usahanya.

Pengembangan kemampuan (skill) setiap pelaku ekonomi dapat mendorong stabilnya perekonomian Indonesia terutama Inflasi dan nilai tukar rupiah. Pola hidup produktif pun bisa disosialisasikan sejak dini, seperti kewirausahaan. Hal ini akan mengurangi pola hidup konsumtif yang tidak jarang memberikan efek sosial seperti konsumsi barang berdasarkan kepentingan kelas sosial[5].

Fenomena ini merujuk pada pembelian barang dari luar negeri karena dianggap lebih memiliki nilai yang baik. Semua ini perlu didasari kesadaran akan cinta negeri ini, sadar bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat bagus dari segi komoditas bahan dan barang jadi yang dihasilkan. Ketika masyarakat Indonesia sadar akan potensi negaranya dan bangga akan bangsa sendiri, produksi dalam negeri akan meningkat seiring peningkatan kemampuan produksi pelaku ekonomi yang didukung dengan bahan dalam negeri serta meningkatkan kualitas barang dalam negeri. Kesadaran ini akan menjadikan Indonesia mampu bersaing di perdangan dunia sehingga meningkatkan nilai ekspor.

Membangun perekonomian

Bangkitnya semangat membangun perekonomian dalam negeri dikalangan pelaku ekonomi Indonesia akan menghasilkan iklim investasi yang positif karena perekonomian menjadi stabil dan semakin memberikan peluang timbal balik investasi yang positif. Hal ini akan menarik investor dalam dan luar negeri untuk melakukan investasi di Indonesia dan tidak menarik dananya ke luar negeri seperti fenomena yang terjadi sekarang (kenaikan imbal hasil atau yield obligasi Amerika[6]). Iklim investasi dalam negeri yang positif merupakan bagian dari tanggungjawab pemerintah Indonesia.

Pemerintah Indonesia melalui bank Indonesia menetapkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah tetap stabil. Namun hal itu tidak dapat mempengaruhi bangkitnya perekonomian Indonesia jika tidak didukung oleh masyarakat selaku pelaku ekonomi di Indonesia. Kebijakan moneter yang ditetapkan baik itu berupa penetapan suku bunga untuk mengatur peredaran uang.

Jika suku bunga yang ditetapkan meningkat maka pelaku ekonomi akan cenderung menyimpan uangnya di bank sehingga peredaran uang rupiah berkurang (nilai tukar menguat), begitu juga jika suku bunga pinjaman menurun maka pelaku ekonomi akan lebih mudah mengembangkan usahannya dengan melakukan pinjaman usaha yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi[7].

KESIMPULAN

Pertumbuhan ekonomi bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah Indonesia tetapi tanggungjawab bersama sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Perbedaan potensi alam, budaya, karakteristik masyarakat tidak seharusnya menjadikan perekonomian bergerak tidak optimal atau hanya tumbuh dibeberapa daerah saja. Namun seharusnya perbedaan ini menjadikan dorongan positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Dengan saling melengkapi komoditas dan kemampuan usaha antar daerah sehingga menjadikan produksi nasional yang dapat bersaing memenuhi kebutuhan dalam negeri bahkan bersaing diperdagangan luar negeri. Stabilnya inflasi dan nilai tukar rupiah akan lebih efektif jika masyarakat Indonesia memiliki rasa kesatuan dan sadar bahwa jika ingin negara ini maju maka harus percaya akan potensi dan kemampuan negara ini sendiri.

Pemerintah sebagai pemangku kebijakan, dalam hal ini perekonomian nasional, tidak akan mewujudkan hasil kebijakan ekonomi yang ditetapkan secara berkepanjangan jika tidak didukung oleh masyarakat Indonesia. Mewujudkan iklim investasi yang positif dengan meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri dan memanfaatkan komoditas dalam negeri secara maksimal akan mendorong arus modal ke dalam negeri dan meningkatkan nilai ekspor neto[8].

Hal ini tentunya akan lebih efektif menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi dititik yang aman. Fenomena turunnya tingkat inflasi yang seharusnya diiringi dengan nilai tukar rupiah yang menguat ini tidak terwujud karena kemampuan perekonomian dalam negeri yang sebenarnya memiliki potensi komoditas yang baik tidak diwujudkan secara maksimal dan masih bergantung pada perekonomian luar negeri sehingga rupiah terus melemah walaupun tingkat inflasi menurun.

Perbedaan suku, budaya, dan potensi alam harus menjadi dasar kesatuan perekonomian Indonesia. Kesadaran sebagai satu bangsa akan menjadikan perekonomian lebih kuat secara merata, tidak timpang antar daerah dan menjadikan bangsa Indonesia kuat dimata dunia secara ekonomi. Fenomena ekonomi Inflasi dan nilai tukar rupiah bukan hanya sekedar masalah angka yang menjadi tanggungjawab pemerintah, namun fenomena tersebut merupakan suatu isu yang harus dihadapi dan dijaga kestabilannya oleh masyarakat Indonesia sebagai kesatuan yaitu bangsa Indonesia.

Referensi :

[1] US Treasury yields rise on hopes for resumption of China trade talks, https://www.cnbc.com/2018/08/16/us-bonds-and-fixed-income-fresh-economic-data-on-the-agenda.html, dipublikasikan CNBC.com, 16 Agustus 2018.

[2] Neraca Perdagangan Indonesia  periode 2013-2018, http://www.kemendag.go.id/id/economic-profile/indonesia-export-import/indonesia-trade-balance, Kementrian Perdagangan Indonesia.

[3] N. Gregory Mankiw, Makroekonomi, Inflasi dan Tingkat Bunga [Diterjemahkan oleh Fitria Liza dan Imam Nurmawan] Jakarta, Erlangga, 2007, edisi 6 hal 89-90.

[4] N. Gregory Mankiw, Teori Perekonomian Terbuka, [Diterjemahkan oleh Fitria Liza dan Imam Nurmawan] Jakarta, Erlangga, 2007, edisi 6 hal 112-116.

[5]N. Gregory Mankiw, Marginal Propensity to Consume, John M Keynes, [Diterjemahkan oleh Fitria Liza dan Imam Nurmawan] Jakarta, Erlangga, 2007, edisi 6 hal 447.

[6]Daily Treasury Yield Curve rates,  https://www.treasury.gov/resource-center/data-chart-center/interest-rates/Pages/TextView.aspx?data=yield, U.S Department of the Treasury, 9 Oktober 2018.

[7]N. Gregory Mankiw, Fisher Effect, Equation, I Fisher [Diterjemahkan oleh Fitria Liza dan Imam Nurmawan] Jakarta, Erlangga, 2007, edisi 6 hal 89-90.

[8] N. Gregory Mankiw, Teori Klasik Perekonomian Terbuka, Kurs Riil Ekuilibrium [iterjemahkan oleh Fitria Liza dan Imam Nurmawan] Jakarta, Erlangga, 2007, edisi 6 hal 128-131.

 

Sekian Essay saya kali ini, bukan essay sebenarnya karena abstrak banget hahahaa. Salut saya sama adik-adik yang juara di Lomba Essay ini, ada yang masih kuliah tapi pemikirannya lebih solutif dari saya, sedangkan saya hanya teoritis. Kalau kata suami sih, jadikan motivasi aja, namanya juga baru ikut essay, kedepannya harus lebih serius lagi buat essaynya.

Serius ko buat essaynya apalagi hadiahnya keluar negeri gratis. Sal kita harus jadi tim yang baik ya, semangatin ibu kalau lagi malas, Sal juga tidur yang nyenyak kalau ibu lagi melakukan hal yang positif ya hehehehe.

See you in the next post !!! boleh untuk saran atau masukannya langsung di komen aja ya !

Please follow and like us:
Coffee addict, Thinker, try to be human Reach me at contact.me@saraswatisepti.com or saraswatisepti@gmail.com Lets share our stories

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Translate »