Sukses Faktor Aliansi Stratejik

Sukses Faktor Aliansi Stratejik

Sukses Faktor Aliansi Stratejik

Sukses Faktor Aliansi Stratejik : Aliansi stratejik merupakan jembatan dalam pertukaran berbagai sumber daya penting , keahlian dan kompetensi dari masing-masing pihak. Perusahaan-perusahaan tersebut saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati. Untuk membangun kesuksesan dan efisiensi supply-chain management aliansi stratejik tumbuh sebagai alternative untuk melakukan merger dan akuisisi atau untuk membuat sebuah perjanjian dengan beberapa perusahaan dalam industry yang sama. Aliansi stratejik didefinisikan sebagai “an agreement between firms to do business together in ways that goes beyond normal company-to-company dealings, but fall short of a merger or a full partnership” (Wheelen and Hungar, 2000, as cited in Elmuti et al, 2001). Hal ini berbeda dengan joint venture karena joint venture adalah perluasan dari aliansi yang lebih sering menghasilkan struktur entitas bisnis yang baru.

Mockler (2001) menyatakan adanya tiga bentuk dasar dari aliansi stratejik, yaitu pertama, dua atau lebih perusahaan yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Kedua, perusahaan mitra yang berbagi manfaat dan mengontrol pencapaian tugas bersama. Ketiga, perusahaan mitra memberikan kontribusinya bagi kelanjutan usaha pada satu atau lebih area stratejik, seperti teknologi atau produk. Selanjutnya, Mockler juga menjelaskan tentang manfaat aliansi stratejik yang antara lain adalah menyediakan akses ke pasar baru, menambah nilai produk perusahaan, memperluas distribusi dan memberikan akses ke sumber material, dan mengurangi tingkat kompetisi.

Berikut adalah factor dari kesuksesan aliansi stratejik :

· Minimize conflict among the partner by clarifying objectives and avoiding direct competition in marketplace.

Aliansi stratejik menghasilkan daya saing yang lebih kuat bagi perusahaan karena dengan aliansi maka perusahaan memiliki kemampuan daya saing yang lebih dalam pasar dibandingkan dengan hanya berdiri sendiri. Aliansi yang dilakukan oleh perusahaan tentunya harus didasari dengan komitmen dan kepercayaan di antara perusahaan-perusahaan yang melakukan aliansi stratejik ini. Hal ini bisa diwujudkan dengan menyajikan informasi secara jelas mengenai setiap core bisnis yang berhubungan. Selain itu dengan dilakukannya aliansi stratejik maka setiap perusahaan yang melakukan aliansi itu harus memaparkan apa tujuan dari perusahaan , hal-hal apa saja yang akan dilakukan , serta apa yang hendak dicapai dengan aliansi tersebut. Hal ini tentunya bisa mencegah terjadinya salah paham di antara perusahaan yang bisa menimbulkan konflik.

Monczka (1998) menyatakan bahwa aliansi strategik yang sukses adalah aliansi yang menerapkan :

· Sering menggunakan teknik resolusi konflik yang konstruktif, diantaranya adalah memutuskan masalah bersama dan persuasi.

· Jarang menggunakan teknik menghindari konflik, diantaranya adalah memperhalus/menghindari permasalahan

· Jarang menggunakan teknik resolusi konflik destruktif, diantaranya kata-kata kasar dan arbitrasi dari luar

Kejelasan informasi dan tujuan dari aliansi ini sangatlah penting karena bisa membangun kepercayaan di antara perusahaan dengan tetap berpegang pada komitmen yang mendasari pelaksanaan aliansi stratejik ini. Menurut teori Kanter, kepercayaan berkembang dari pengertian mutual yang berbasis pada pembagian nilai dan ini sangat penting untuk loyalitas dan komitmen. Penyajian informasi mengenai tujuan perusahaan serta tujuan aliansi stratejik ini memberikan arah yang jelas dalam pelaksanaan aliansi stratejik sehingga aliansi stratejik ini tidak menimbulkan persaingan langsung antara perusahasaan yang beraliansi dalam pasar karena perusahaan telah mengetahui dan menentukan strategi apa yang akan dilakukan agar perusahaan kuat bersaing dalam pasar dengan adanya aliansi ini serta perusahaan pun sudah mengetahui batasan-batasan yang harus dilakukan agar tidak menganggu atau merugikan perusahaan yang beraliansi dengan perusahaannya. Dussauge dan Garrette (1998, hlm. 105-106) mendefinisikan aliansi sebagai proyek bersama (collaborative projects) yang dilakukan oleh perusahaanperusahaan yang bergerak dalam industri yang sama. Hal ini sejalan dengan pandangan Chan dan Heide (1993, hlm. 9) yang menyatakan aliansi strategic sebagai persetujuan kontrak antar perusahaan untuk bekerjasama mencapai tujuan tanpa tergantung pada bentuk aliansi yang akan diambil oleh perusahaan.

· In an international alliance, ensure that those managing it have comprehensive cross cultural knowledge

Secara luas, aliansi stratejik dapat menjadi lebih kompleks dan melibatkan beberapa perusahaan yang berlokasi di negara yang berbeda. Aliansi stratejik digunakan untuk memperkuat posisi perusahaan dalam menghadapi persaingan bisnis yang makin ketat. keberadaan aliansi dipandang sebagai hal yang sentral bagi suatu perusahaan untuk menghadapi persaingan global dan untuk memasuki pasar baru (Vyas dkk, 1995, hlm. 58). Syarat untuk beroperasi secara efektif dalam lingkungan multinasional membutuhkan perspective pemahaman politik , ekonomi dan factor social di Negara lain. Perusahaan bertanggung jawab untuk mengembangkan dan menjaga koalisi dan aliansi pusat terhadap pertahanan strategi nasional yang harus disertai dengan pemahaman budaya di Negara lain. Hal ini merupakan bagian yang penting dalam strategi untuk membuat kejelasan maksud dari tindakan yang diambil , kata yang demikian negoisasi yang dilakukan akan lebih mudah dan tepat tujuan

Dalam aliansi internasional , perusahaan harus memahami budaya dari setiap Negara perusahaan partner nya. Untuk mengetahui kebudayaan lintas Negara , perusahaan bisa melakukan environmental scanning. Environmental scanning bertujuan untuk mencari informasi yang relevan terhdap lingkungan. Kemampuan ini sangat penting karena bisa mengetahui dimana kita harus mencari perusahaan yang akan beraliansi , perusahaan mana yang akan di ajak beraliansi dan hal apa sajakah yang akan ditanyakan ketika akan membetuk aliansi sesuai dengan lingkungan budaya dimana perusahaan yang akan ditawarkan untuk beraliansi tersebut berada. Misalnya , ketika perusahaan amerika ingin memperluas pasar nya ke Indonesia serta ingin membuat aliansi dengan perusahaan Indonesia maka perusahaan amerika tersebut akan melakukan environmental scanning terlebih dahulu sebelum melakukan aliansi tersebut karena budaya di Indonesia sangatlah berbeda dengan di amerika seperti tata krama , sopan santu , norma agama , norma kesusilaan dan norma hokum tentunya.

· Exchange human resources to maintain communication and trust. Don’t allow individual egos to dominate

Proses komunikasi dan penyebaran informasi merupakan hal fundamental dalam banyak aspek fungsi organisasi (Mohr dan Nevin, 1990). Dua aspek perilaku komunikasi yang menunjukkan dimana informasi saling bertukar merupakan hal efektif dalam aliansi yang mempunyai penyebaran informasi dan tingkat kualitas informasi dan partisipasi. Hunt dan Morgan (1994) mengamati kesediaan untuk berbagi informasi tepat waktu, penuh arti adalah penting manakala memilih suatu mitra, karena komunikasi adalah suatu penting yang merupakan bagian dari pemecahan perselisihan paham. Hal ini juga penting untuk mengembangkan kepercayaan, pengertian dan komitmen diantara mitra.

Komunikasi yang baik menjadikan informasi yang disampaikan tidak akan menimbulkan salah paham di antara perusahaan yang beraliansi. Kepercayaan merupakan bentuk kesungguhan dalam berkomitmen pada hubungan kerjasama organisasionalnya. Kepercayaan akan muncul dari sebuah keyakinan bahwa hubungan kerjasama akan memberikan manfaat seperti yang diharapkan oleh kedua belah pihak. komunikasi yang terbuka, keterbukaan dalam informasi kritikal, keterbukaan dalam persepsi dan feeling, serta besarnya keterlibatan pekerja dalam keputusan memfasilitasi kepercayaan dalam hubungan antar organisasi.

Salah satu cara untuk membangun kepercayaan adalah melalui komunikasi yang disampaikan oleh sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan. Komunikasi ini bisa dilakukan dengan pertukaran sumber daya manusia dari setiap perusahaan untuk menyampaikan informasi yang dibutuhkan oleh setiap perusahaan serta untuk lebih mengenal perusahaan satu sama lain sehingga tidak terjadi hal-hal yang hanya mementingkan salah satu pihak. Butler (1991) menyatakan bahwa terdapat sebelas (11) kondisi dari kepercayaan secara organisasional yang sebaiknya dipenuhi, yakni : bijaksana dalam memilih, availibilitas, kompetensi, konsistensi, kejujuran, integritas, loyality, keterbukaan, kepercayaan yang menyeluruh, pemenuhan janji, penerimaan (suatu kondisi). Melalui pertukaran human resource ini maka perusahaan memiliki delegasi sebagai penjembatan antar perusahaan serta berperan dalam menjaga komunikasi yang baik untuk tetap meningkatkan kepercayaan antar perusahaan.

· Operate with long-term time horizons. The expectation of future gains can minimize short-term conflict

Pada dasarnya ada dua asumsi waktu dalam perencanaan yaitu jangka panjang yang merupakan rencana untuk lebih dari satu tahun dan normalnya adalah lima sampai sepuluh tahun. Rencana ini sering disebut rencana stratejik atau rencana investasi, rencana ini mendukung tujuan perusahaan dengan menyatakan kemana perusahaan akan berjalan. Rencana yang ke dua adalah rencana jangka pendek yaitu rencana untuk satu tahun. Rencana jangka pendek muncul dari evaluasi mendalam dari rencana jangka panjang. Anggaran tahunan adalah bentuk kuantifikasi dari rencana perusahaan dalam tahun fiscal. Anggaran ini umumnya dibagi kedalam quarter dan digunakan untuk mengontrol kegiatan sehari-hari. Rencana ini sering disebut rencana taktikal karena memprioritaskan jangka waktu terdekat , untuk rencana jangka panjang melalui alokasi sumberdaya terhadap spesifik kegiatan.

Dalam beraliansi , perusahaan harus menerapkan asumsi bahwa perusahaan akan beroperasi dalam jangka waktu yang lama. Asumsi ini biasa disebut going concern. Hal ini membuat aliansi yang terjadi memiliki nilai usaha yang tinggi terhadap tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan. Asumsi going concern ini membuat aliansi stratejik ini memiliki ekspetasi untuk mendapatkan keuntungan sehingga perusahaan-perusahaan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Perusahaan akan bersama-sama dalam melakukan kegiatan bisnis di dalam pasar karena dasar going concern tersebut. Tujuan yang ditetapkan dalam aliansi ini bisa mencegah terjadinya konflik karena kesamaan tujuan tentunya membuat perusahaan berusaha melakukan apapun untuk mencapainya secara bersama-sama.

Let's connect
Passionate about Data Analytics, Entrepreneurship, and Business Strategy. Exploring the intersection of data-driven insights and innovative business decisions. B. Economics | MBA-Entrepreneurship | Data Analytics Certified | Analyst and Research Reach me at saraswatisepti@gmail.com or hai.ssaras@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Translate »